Naik Gunung atau Mendaki Gunung, siapa sih yang tak mengenal
2 kata itu, 2 kata yang mungkin sangat mengerikan ehh mengerikan tapi memang
nyata nya hobby naik gunung memang hobby yang sangat mengerikan “Kok bisa
mengerikan sih “ bukan nya hobby naik gunung itu hobby yang sangat mengasyikan
yaahh ??
Memang di satu sisi naik gunung atau mendaki gunung itu mengasyikan dan
mengerikan bagai mana tidak kita kembali ke beberapa tahun yang lalu tepat 24
Desember 2013 teman kita / saudari /saudara / adik / kakak kita meniggal di
Gunung Gede Pangrango tepat 5 Hari sebelum beliau Ulang Tahun, tapi semua itu
memang sudah takdir atau memang kelalaian dari survivor nya itu sendiri,
tapi yaa sudahh...sudaahhh... lahhh
Disatu sisi mendaki gunung itu menyenangkan sekaligus
mengsyikan bagaimana tidak melihat gumpalan awan tepat sejajar dengan kita atau
bahkan gumpalan awan itu tepat di bawah kita, melihat Golden Sunrise atau Sang
Surya perlahan lahan menampak kan diri nya , bulan berganti dan matahari, dan
indah nya ciptaan dan lukisan Sang Maha Pencipta ,serta malam yang bertabur
bintang ( kalo ngga mendung ), dan satu lagi kita mendapat teman baruuu,
\(^,^)/ \(^,^)/,
Tapi beberapa atau mungkin 30 % pendaki masih bingung
menjawab dengan perkataan “Mengapa suka
naik gunung ?”. Kawan- kawan mungkin pernah atau sering kali ditanya oleh
teman, tetangga, atau orang tua, “Mengapa suka naik gunung ??? “. Jika
jawabannya “iya”, berarti kita senasib…. Seringkali jika ditanya dengan
pertanyaan seperti itu, Saya kadang juga bingung mau kasih jawaban apa yang
cocok untuk diutarakan yah ???
Sudah menjadi kebiasaan bagi Saya untuk berbicara dengan
orang lain menggunakan bahasa yang “sesuai” dengan konteks umurnya, seperti
yang biasa digunakan oleh orang jawa dalam berbicara menggunakan Bahasa Jawa.
Ada bahasa kasar, ada yang halus. Menyesuaikan dengan konteks umur orang yang
diajak bercakap- cakap, walaupun sepanjang hidup saya dilahirkan dan besar di
Sumatera yang kebanyakan menggunakan bahasa padang, melayu atau batak.
Kadangkala juga harus menyesuaikan kepada background edukasi mereka. Jika
ngobrol dengan anak esde, Saya akan gunakan bahasa yang dapat dengan mudah
difahami oleh mereka. Berbeda dengan berkomunikasi dengan mahasiswa, orang
kantoran dan yang pendidikannya lebih tinggi, paling kurang mereka mengerti
akan vokalisasi, definisi dan sinonimisasi serta sasi- sasi yang lainnya.
Seperti misalnya jika yang bertanya adalah anak kecil, untuk
pertanyaan di atas, “Mengapa suka naik gunung ?”. Kira- kira Saya akan menjawab
“Kita dapat menikmati pemandangan yang indah di sana dek, bla, bla, bla…. “.
Dengan harapan si adek mau mengikuti hobby Saya, menjadi seorang Pendaki. Saya
akan menceritakan tentang hal- hal yang menyenangkan dalam perjalanan Saya,
teman- teman seperjalanan yang luar biasa, indahnya sunrise dan sunset di atas
3.000 mdpl, lembutnya daun edelweiss, gemerisik cantigi yang ditiup angin, dan
seribu alasan keindahan dan kesenangan lainnya. Saya akan menggambarkan “Surga”
kepadanya. Tidak mungkin Saya akan menceritakan kegetiran selama di perjalanan
kepadanya. Beratnya beban di pundak, dingin yang menyayat kulit, terjangan
badai dan halimun gunung, atau pesta pora pacet, kalajengking dan ular yang
menyambut kedatangan pendaki. Ditambah pula bahaya hypothermia, dehidrasi atau
mountain sickness yang menghantui. Ntar dia langsung kabur, dan hilanglah satu
jiwa yang suatu hari nanti mungkin saja dapat dididik menjadi volunteer/
relawan konservasi.
Jika yang bertanya adalah teman sebaya, “Mengapa suka naik
gunung ?”. Jawaban Saya biasanya yang lebih “diplomatis”, seperti “Ikutlah
denganku ke Gunung, maka kau akan tahu kenapa Aku suka naik gunung”. Kadang-
kadang jawaban ini berhasil “meracuni” sang kawan, dan,,,, tentu saja dia
ketagihan. Tambah satu lagi pendaki di negeri ini. Jika temen cewek yang
melontarkan pertanyaan ”Mengapa suka naik gunung ?”, jawaban Saya biasanya “Aku
mau latihan dulu mendaki gunung, setelah itu Aku akan mendaki hatimu”….
Hallaaahhhh…. Modus…
Nah, jika orang yang lebih tua umurnya dari Saya menanyakan
hal yang sama, “Mengapa suka naik gunung ?”. Jawaban yang paling aman yang
sering saya berikan adalah jawaban yang sedikit patriotis, meminjam kata- kata
Hoek Gie, “Itu karena Saya mencintai negeri ini. Bagaimana Saya dapat mencintai
negeri ini jikalau Saya tidak mengenal apa saja yang ada di negeri ini”. Untuk
mencintai sesuatu, kita harus mengenalnya lebih dekat…. Aseeeekkkk.
Dari semua jawaban yang pernah Saya berikan, saya
berfikir,,, Saya butuh satu jawaban yang mampu menjawab 3 pertanyaan yang sama,
dari 3 strata umur yang berbeda. Suatu jawaban yang dapat terus disebutkan
untuk siapapun yang bertanya. Akhirnya, dari beberapa cerita yang digabungkan
menjadi satu, menjadi landasan jawaban Saya, jika Saya ditanya “Mengapa suka
naik gunung ?”.
Nabi Adam AS dan Hawa saat diturunkan di Bumi, diturunkan
pada tempat yang terpisah. Mereka saling mencari satu sama lainnya. Tak jarang
mereka mendaki gunung yang tinggi dengan harapan dari puncak gunung itu dapat
melihat ke sekelilingnya, untuk menemukan belahan jiwanya. Adam AS mendaki
karena CINTA… Pada belahan jiwanya…
Menurut riwayat, akhirnya mereka bertemu saat sama- sama
mendaki ke puncak Gunung Rahmah (Jabal Rahmah) di kota Mekkah.
Siti Hajar, ibundanya Nabi Ismail AS, juga seorang pendaki. Ketika
dia dan anaknya ditinggalkan oleh bapak para nabi, Ibrahim AS, Siti Hajar
berlari kecil mendaki ke Gunung Safa untuk mencari air bagi bayi mungil buah
hatinya yang kehausan, Ismail AS. Tidak menemukan air di gunung Safa, beliau
berlari kecil kembali ke Gunung Marwa guna mencari air. Begitu seterusnya
sampai 7 x pulang balik. Saat terakhir kali beliau melewati Ismail AS, ternyata
ada mata air yang memancar dari tanah di kaki Ismail AS. Itulah zam- zam, mata
air yang tak pernah kering dan menyembuhkan. Dan karena air itu, lembah yang
dulunya kering menjadi sebuah kota, Bakka (Mekkah saat ini). Siti /hajar
mendaki karena CINTA… Pada buah hatinya…
Yesus (Isa AS) mendaki ke Gunung Golgota (tengkorak) sambil
membawa salib di pundaknya. Dan menurut umat Nasrani itu memang harus dilakukan
untuk memenuhi takdirnya. Yesus (Isa AS) mendaki kerena CINTA… Pada
pengikutnya…
Rasulullah Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi rasul juga
suka, malah sering naik gunung. Gunung Cahaya (Jabal Nur) yang ada di pinggir
kota Mekkah, untuk menyendiri di Goa Hira. Untuk lepas dari hiruk pikuk dunia,
mencari ketenangan guna menemukan esensi keilahian yang murni. Sampai suatu
malam, Ruh yang mulia, yakni Jibril, muncul di hadapannya dan memerintahkan
Muhammad SAW untuk membaca, “Iqra’… (bacalah…)”. Muhammad SAW mendaki karena
CINTA… Pada Tuhannya…
Nah itu dia… CINTA adalah jawaban yang universal buat Saya.
Jika ada yang bertanya Mengapa kamu suka naik gunung ?”, jawabannya , “AKU
MENDAKI KARENA AKU CINTA…”.
Aku cinta dengan negeri ini, sehingga Aku harus mendaki
untuk mengenalnya. Aku cinta dengan teman- temanku, sehingga Aku harus mendaki,
untuk minum kopi bersama mereka. Aku cinta pada Nabi ku, sehingga Aku harus
mendaki karena mengikuti jejaknya. Aku cinta kepadamu kekasih hatiku, sehingga
Aku harus mendaki untuk menggoreskan namamu di atas pasir gunung. Yaaa,,, AKU
MENDAKI KARENA AKU CINTA…
* * * * *
" Habiskan nasi gorengnya sampai pada butir terakhir kawan.
Untuk mendapatkan satu butir nasi, petani kita menunggu sampai satu musim untuk
memanennya.
Semoga jiwamu tercerahkan. "
* * * * *
Anjar || The Traveller mengajak untuk :
“GUNAKAN HATI SAAT MENDAKI”